Merindukan Roh Pandu Indonesia

Sederhana dan mengabdi tanpa pamrih. Sifat-sifat itu tergambar jelas dalam diri Idik Sulaeman Nataatmadja. Sifat seperti itu sungguh sulit dicari pada sosok pemimpin masa kini.

Kendati sudah berusia 78 tahun, Idik yang aktif dalam gerakan kepanduan dan merancang kurikulum latihan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada awal kemerdekaan RI, tetap dipanggil ”Kak Idik”. Semangatnya terasa. Jabat tangannya hangat dan bertenaga, pancaran matanya lembut meski Kak Idik tak leluasa berbicara setelah terserang stroke pada 2006 dan akhir tahun lalu didera kanker usus.

Tak banyak orang yang paham siapa sebenarnya Idik Sulaeman. Namun, namanya tertera sebagai penulis puluhan buku tentang gerakan Pramuka, seperti Menempuh Kecakapan Siaga Mula, Penolong Pembina Siaga, Gagasan Latihan untuk Penegak, Perkemahan Regu dan Pasukan, Nayati Siaga Putri, Upacara dalam Kesiagaan, Metode Kesiagaan, dan Kursus Kader Pemimpin Regu.

Ilustrasi sosok anggota pramuka yang menghiasi sampul depan buku-bukunya juga digambarnya sendiri. Idik memang gemar menggambar dan seorang sarjana Seni Rupa dan Desain dari Institut Teknologi Bandung. Atribut pramuka siaga, penggalang, dan penegak pun Idik yang merancangnya.

Karya Idik yang juga digunakan jutaan anak Indonesia adalah badge pada seragam sekolah, baik untuk taman kanak-kanak, sekolah dasar, maupun sekolah menengah pertama serta badge OSIS untuk siswa sekolah menengah atas.

Pada badge TK, misalnya, tampak dua siswa putra dan putri menjunjung Sang Merah Putih sebagai harapan generasi muda, simbol penanaman cinta Tanah Air sejak dini. Sementara bunga yang belum mekar berdaun lima menunjukkan siswa muda usia harapan bangsa yang perlu diisi jiwa Pancasila untuk kelak dihayati dan diamalkan.

Sekitar tahun 1980, Idik merancang badge itu atas permintaan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef. Saat itu Idik menjabat Direktur Pembinaan Kesiswaan Ditjen Pembinaan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.

Idik pula yang menciptakan lambang dan atribut yang dikenakan Paskibraka, mulai dari lambang korps, lambang anggota, tanda pengukuhan, seperti lencana Merah Putih Garuda, hingga kendit kecakapan. Untuk semua rancangan itu, tak sepeser pun Idik mengantongi bayaran.

Ketika ditanya apakah menyesal karena tak pernah mendapat honor atas karyanya yang digunakan banyak warga Indonesia, Idik tegas menjawab, ”Tidak.” Ia menganggap hal itu sebagai pengabdian.

Sukarela

Kesukarelaan dan pengabdian tanpa pamrih merasuk kuat dalam nadi Idik. Ini pula, menurut dia, yang membedakan gerakan kepanduan dengan gerakan pramuka.

Dahulu, seseorang masuk gerakan kepanduan karena sukarela. Namun, setelah menjadi gerakan pramuka, siswa diwajibkan mengikuti kegiatan ini di sekolah. Bahkan, belakangan ini ada daerah yang mengharuskan sekolah mengadakan ekstrakurikuler pramuka. Akhirnya keterpaksaan muncul dan gerakan pramuka tidak bisa berkembang.

Semestinya, menurut Idik, seorang pandu memiliki semangat persatuan, kemandirian, kesederhanaan, pengabdian, kesukarelaan, dan kecintaan kepada Tanah Air. Ini membentuk watak seseorang menjadi baik.

Karena itu, ketika Idik bersama Husein Mutahar (kala itu Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) membidani Paskibraka, konsepnya adalah pembekalan generasi muda untuk menjadi pemimpin masa depan. Ibaratnya, seorang anggota Paskibraka harus seperti pisau bermata dua yang tajam di kedua sisinya dan runcing.

Paskibraka dipersiapkan untuk tugas jangka pendek, mengibarkan bendera pusaka dalam puncak peringatan hari jadi Indonesia. Adapun tujuan jangka panjangnya adalah membentuk karakter generasi penerus bangsa.

Kurikulum latihan Paskibraka pun tak melulu baris-berbaris. Sebaliknya, penyiapan mental, ideologi, etika, dan kepemimpinan disampaikan juga dengan suasana pembinaan yang disebut Desa Bahagia.

Hubungan pembina dan calon Paskibraka adalah kakak-beradik, dilandasi persaudaraan dan cinta kasih, bukan senior dan yunior.

Para calon anggota Paskibraka pun tidak perlu merasa takut untuk bertegur sapa, berdiskusi, atau menyampaikan kritik.

Bersahaja

Berbincang dengan Kak Idik di rumahnya di kawasan Kemanggisan Ilir, Jakarta, hanya kesederhanaan yang melingkupi. Rumahnya berukuran sekitar 100 meter persegi, ruang tamunya diisi seperangkat kursi kayu tanpa ukiran. Lampu penerangannya pun seperlunya, tak ada lampu gantung yang terkesan mewah.

Aisah Martalogawa, istri Idik yang mendampinginya saat itu, bersama seorang alumnus Paskibraka 1978, Budiharjo Winarno, menceritakan peluang untuk mendapatkan kekayaan sesungguhnya terbuka. Ketika Idik menjabat sebagai Direktur Pembinaan Kesiswaan Ditjen Pembinaan Dasar dan Menengah, kata Aisah, banyak pengusaha yang berusaha menemuinya. Mereka berharap bisa mendapatkan hak monopoli pengadaan bahan seragam sekolah.

Idik tak pernah menemui mereka. Idik lebih menginginkan pengadaan seragam ditangani koperasi-koperasi di sekolah. Dengan demikian, sumber ekonomi bisa lebih menyebar kendati tidak dalam jumlah besar.

Karena itu, jangankan menginginkan bayaran atas rancangannya atau penghargaan, Idik menganggap semua karyanya sebagai pengabdian, tanpa pamrih.

Namun, apakah layak pemerintah dan masyarakat berdiam diri dan tak menghargai karya Idik? Tak hanya itu, Idik pun bisa menjadi tempat bertanya dan belajar segala sifat baik seorang pandu Indonesia sejati.

Oleh NINA SUSILO

About Darwin Darkwin

" .. pegiat social media dan blogger amatir yang menjadikan media social khususnya blog ini sebagai media ekspresi dan idea-idea kreatif."

[Untuk komentar harap ditulis : Nama, Asal Paskibraka, dan tahun Paskibraka]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: