Perjuangan Andina Arbarini dan Aqza Jufri, Wakil Sulsel di Paskibraka : Ke Jakarta Beli Tiket Sendiri

KECEWA. Muh Dachlan Taha menunjukkan foto anaknya, Andina Arbarini bersama Aqza Jufri saat bersamalan dengan Presiden, Susilo Bambang Yodhoyono di Istana Negara.

Fajar.co.id – Menjadi anggota pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) tentu menjadi sebuah kebangaan. Apalagi jika itu dilakukan di Istana Negara. Namun apa jadinya jika kebanggan itu, diselimuti kekecewaan karena tak mendapat perharian dari pemerintah provinsi yang diwakili.

——

Rasa bangga Muh Dachlan Taha tak bisa diungkapkan saat mengetahui putrinya, Andina Arbarini  lolos menjadi paskibraka mewakili Sulawesi Selatan ke Istana Negara. Namun, kebanggaan itu dianggap tak bernilai karena pemerintah provinsi Sulsel tak memperhatikan perjuangan siswi SMAN 14 Makassar ini.

Andina yang akrab disapa Dina itu adalah salah satu wakil Sulsel ke Istana Negara menjadi salah satu pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) pada 17 Agustus 2012 lalu. Ia terpilih mewakili Sulsel setelah beberapa kali melalui rentetan seleksi. Setelah melalui seleksi di tingkat sekolah tepatnya di SMAN 14 Makassar tempatnya menuntut ilmu, ia kembali melalui seleksi tingkat Kota Makassar.

Berkat kerja keras dan bakatnya yang terus diasah melalui kegiatan ekstra kurikuler paskib di sekolah, akhirnya ia kembali terpilih untuk seleksi tingkat provinsi. Pada seleksi terakhir itu, Dina harus bersaing dengan perwakilan 24 kabupaten/kota se-Sulsel. Tentu dengan cara menunjukan kemampuannya dalam hal baris berbaris.

Hingga pada akhirnya, ia terpilih mewakili Sulsel bersama salah seorang siswa dari SMAN 2 Model Watampone, Kabupaten Bone, Aqza Jufri. Pada upacara pengibaran bendera pusaka di Jakarta 17 Agustus lalu, Dina berada pada pasukan delapan serpihan, sayap kanan. Sementara Aqza berada pada posisi penjuru pasukan 17 sebelah kanan.

Meski begitu, kebanggaan orang tua dari dua generasi muda yang membawa nama baik Sulsel itu harus berujung dengan kekecewaan. Betapa tidak, untuk ke Jakarta orang tua mereka harus merogoh kocek dari kantong mereka sendiri membeli tiket pasawat ke Jakarta.

“Jelas saya sangat kecewa dan sakit hati. Anak saya ini mewakili Sulsel sementara pemerintah sama sekali tidak memperhatikan,” ujar Dachlan, Kamis, 23 Agustus saat bertandang ke Redaksi Harian FAJAR.

Awalnya, Dachlan yang tak mendapat kejelasan soal biaya pemberangkatan anaknya ke Jakarta itu berinisiatif sendiri dengan membuat proposal. Proposal itu kemudian diajukan ke Pemprov, namun lagi-lagi tak memberikan titik terang. Dachlan bahkan di pingpong sana-sini dari pengajuan proposal itu.

Selain mengajukan proposal, bapak empat anak itu juga mencoba meminta bantuan kepada beberapa orang. Hasilnya, ia mendapat sedikit bantuan dari orang yang dimintainya bantuan. Di antaranya, salah satu anggota DPRD Kota Makassar, bankir pada salah satu bank, pengusaha dan pimpinan PT Pelabuhan Indonesia IV. Ia juga mendapat sedikit bantuan dari pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga.

Hingga hari H pemberangkatan tepatnya 15 Juli lalu, dari bantuan beberapa orang ditambah uang dari kantongnya sendiri ia membelikan tiket untuk anaknya itu.
“Sama sekali tidak ada bantuan dari pemerintah. Saya juga sudah sampaikan keluhan ke Dispora, tapi katanya tidak ada anggarannya,” tambah Dachlan.

Dari situ, Dachlan lalu berkesimpulan, kalau misalnya tidak dianggarkan berarti Sulsel mamang tak siap mengutus wakilnya di Istana Negara.

Keluhan yang sama juga dilontarkan ibunda Aqza Jufri, Hj Rianti Jufri. Sama dengan Dachlan, ia juga harus mengeluarkan uang dari kantongnya untuk membiayai keberangkatan anaknya ke Jakarta. Pun kebahagiaan pasti menghampiri Rianti.

Putranya tercinta bisa menjadi bagian penting dalam refleksi sejarah kemerdekaan tahun ini. Disaksikan Presiden dan seluruh aparat penting di Indonesia, termasuk pejabat negara tetangga. Begitu pun puluhan juta pasang mata penduduk Indonesia yang menyaksikannya melalui layar kaca televisi.

Kepada FAJAR, ia menceritakan betapa bangga yang disertai gemetar saat menyaksikan anaknya dengan langkah tegap dibalut pakaian putih-putih mengawal bendera pusaka yang akan dikibarkan. Sungguh, perasaan dan pengalaman itu tak akan pernah dilupakan Rainti yang menyaksikan langsung anaknya saat mengibarkan bendera pusaka di Istana Negara.

“Kami mendapatkan undangan dari panitia HUT RI langsung dari Istana Negara. Sebenarnya tidak diwajibkan, tetapi saya rela mengeluarkan uang hanya untuk menyaksikan anak saya di sana,” katanya penuh perasaan bangga.

Hanya saja, perasaan bangga itu kembali dirundung kekecewaan saat diadakan ramah tamah pada malam 17 Agustus. Apalagi, orang tua dari beberapa provinsi sempat berbagi cerita dengan dirinya. Dari cerita-cerita itu bahkan terkuak betapa provinsi lain sangat memperhatikan wakilnya. Beda dengan wakil Sulsel yang sama sekali tak diperdulikan.

Dachlan menambahkan, dari hasil perbincangannya dengan orang tua dari paskibraka provinsi lain ada yang mengaku kalau anaknya mendapat bantuan sebesar Rp15 juta dari gubernurnya. Seperti wakil Nusa Tenggara Timur yang orang tuanya berprofesi sebagai tukang ojek yang mendapat bantuan sebesar Rp8 juta dari gubernurnya.

Baik Dachlan maupun Rianti sebenarnya sudah mencoba meredam perasaan kecewa atas tidak dihargainya pengorbanan dan perjuangan anak mereka. Hanya saja, mereka beranggapan untuk tetap membeberkan masalah ini agar ke depan orang tua dari paskibraka yang mewakili Sulsel di tahun mendatang tidak diperlakukan sama.

“Bagaimana kalau misalnya tahun depan yang mewakili Sulsel itu orang tuanya dari kalangan tidak mampu. Apakah ia bisa tetap mengikutkan anaknya dengan biaya pribadi. Ini harusnya menjadi bahkan evaluasi pemerintah provinsi. Sebab, paskibraka nasional itu bukan hal yang main-main,” imbuh Rianti.

Kepala Seksi Pengembangan Kepemudaan Dispora Sulsel, Andi Yusuf yang dikonfirmasi enggan memberikan komentar. Ia tak banyak bicara dan langsung mematikan telepon genggamnya saat dihubungi. (*/sil)

Laporan: Yusriadi, Makassar

About Darwin Darkwin

" .. pegiat social media dan blogger amatir yang menjadikan media social khususnya blog ini sebagai media ekspresi dan idea-idea kreatif."

[Untuk komentar harap ditulis : Nama, Asal Paskibraka, dan tahun Paskibraka]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: