Renungan Suci

BLOG – Setiap kali melihat acara renungan suci peserta paskibraka yang lagi digodok di Cibubur melihat mereka menangis aku selalu penasaran, bagaimana sih rasanya ikut acara renungan suci, kenapa pesertanya bisa sampai menangis begitu. Namun setiap kali aku mengikuti acara Renungan suci selalu hal-hal aneh terjadi. Waktu lagi ospek junior di gunung waktu mahasiswa,Malam terakhir duduk mengelilingi api unggun, salah seorang temanku memulai berbicara kepada adik-adik junior kalau mereka itu membuatnya sedih dengan kelakuan mereka yang tidak bisa dibanggakan negeri ini, membuat kecewa para pahlawan, dan tentu saja senior, dengan memukul-mukul dadanya temanku itu berteriak-teriak, “kaka…capek! Tapi kalian terus saja begitu, manja,egois, tidak perdulian, bagaimana bangsa ini nanti…” dia mulai terisak dengan akting lebaynya, aku nyaris tergelak tapi ditahan-tahan. Junior-juniorpun mulai ada yang ikut menangis.

“Apa kalian sudah merasa hebat dengan tidak mendengarkan kaka-kaka kalian ini? begitukan? kalian boleh gembira berhasil masuk ke universitas ini, perjalanan masih panjang dik, penuh perjuangan dan air mata.” temanku yang lain mulai menggigit bibirnya dan berbicara dengan suara tercekat. Tangisanpun makin kencang. Brukk! satu junior ambruk…kejang-kejang, menjerit-jerit, diikuti junior lainnya…berlanjut terus hingga malam yang harusnya mengharukan berubah jadi mencekam dan menyeramkan.

Suatu waktu yang lain di renungan suci lainnya, aku yang menjadi pesertanya, dimasukkan di kamar gelap memegang lilin satu-satu dan dikasih satu buku tentang kebangsaan. Menit demi menit berlalu diiringi lagu-lagu instrumental yang lebih satu perasatu mulai terdengar isak tangis dikiri kanan dan belakangku bahkan anak laki-lakipun memangis, aku celingak-celinguk dan heran kenapa aku tidak menangis juga, aku baca buku di depanku yang mirip buku PPKAN itu, berulang kali juga…tidak menangis juga ada yang salahkah denganku. Tiba-tiba aku tersentak bahuku ditepuk dari belakang, senior memanggil namaku,”dik…dik…bangun…bangun…renungan sucinya sudah selesai. Oalah…aku ketiduran! Alhasil teman-temanku yang lain matanya pada merah karena menangis, aku malah merah karena ketiduran.

Bagaimana dengan teman-teman semua bagaimana pengalamannya mengikuti renungan suci?
Aku kadang merasa aneh saja kenapa aku tidak bisa seperti orang-orang yang bisa begitu terharu dan tersentuhnya sampai menangis di renungan suci, aku ingin merasakannya tapi tidak bisa. Tapi aku bisa menangis saat menonton film yang bahkan bukan cerita sedih, membaca novel atau mendengarkan sebuah lagu, bahkan saat sepatu yang pengen kubeli udah dibeli orang lain bisa bikin aku menangis.Tapi kenapa tidak di renungan suci ya?Apakah harus menangis?

[Untuk komentar harap ditulis : Nama, Asal Paskibraka, dan tahun Paskibraka]

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: