Langkah tegap Pengibar Bendera Merah Putih

17 Agustus tahun ’45 Itulah hari kemerdekaan kita Hari merdeka nusa dan bangsa Hari lahirnya bangsa Indonesia

Lagu “Hari Merdeka” ciptaan H Mutahar ini selalu dikumandangkan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Meski tujuh belas-agustusan sudah lewat, enggak ada salahnya kalau kita rnembahas tentang pasukan pengibar bendera atau paskibra yang bertugas dalam upacara peringatan Kemerdekaan RI.

Pasti ada beberapa di antara Mu-DAers yang pernah menjadi anggota paskibra, entah itu di tingkat daerah atau nasional.

Sebagai generasi muda Indonesia, kita harus menghargai dan mencintai jasa para pahlawan. Nah, salah satunya bisa dilakukan dengan menjadi, anggota paskibra. Tentunya tidak mudah lho untuk menjadi anggota paskibra. Kita harus melewati seleksi yang ketat. Putra-putri terbaik dipilih melalui seleksi tahap demi tahap yang sangat selektif dan ketat untuk dapat menjadi pasukan pengibar bendera.

Sebelum pembahasan paskibra ini dilanjutkan, ada baiknya kalau MuDAers mengetahui perbedaan paskibra dan paskibraka (pasukan pengibar bendera pusaka). Kalau paskibra merupakan pengibar bendera di upacara yang diselenggarakan di sekolah atau di kantor kelurahan, kecamatan, kabupaten atau kota.

Salah satunya adalah Paskibra Kota Jakarta Timur. Seleksi tahap pertama dilakukan di tingkat kecamatan. Para peserta sudah mulai di seleksi bendasarkan nilai PBB (peraturan baris-berbaris). Selain itu, peserta yang ikut seleksi juga harus melalui tahap tes wawancara untuk mengetahui motivasi mereka mengikuti kegiatan paskibra.

Tahap terakhir, adalah pantauhir (pemantauan terakhir) yang merupakan tes baris berbaris termasuk sikap sempurna dalam upacara. Untuk di tingkat kecamatan, tes pantauhir ini berlangsung selama 15 menit. Biasanya seleksi di tingkat kecamatan ini tidak berlangsung lama karena pesertanya juga tidak banyak, sekitar 100-200 orang.

Seleksi ketat

Setelah dinyatakan lolos seleksi tingkat kecamatan, peserta akan mengikuti seleksi di tingkat kota. Para peserta yang lolos akan bersaing di tingkat Kota Jakarta Timur yang dilaksanakan di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, di Cakung.

Dalam seleksi di tingkat kota selama dua hari ini, dicari 600 orang yang siap untuk dididik menjadi paskibra. Persaingannya cukup ketat juga lho, karena pesertanya ada 1.000 orang.

Mereka berkompetisi, dengan diawali seleksi tahap pertama, yaitu ketahanan fisik. Peserta harus lari berkeliling kantor Wali Kota Jakarta Timur. Eiitss! bukan berlari begitu saja lho, waktunya dibatasi. Untuk peserta pria, harus berlari berkeliling lapangan sebanyak empat kali, dalam jangka waktu 12 menit. Adapun peserta perempuan diberi waktu 15 menit. Banyak peserta yang gugur di tahap pertama.

Menjadi paskibra bukan hanya fisik yang dites, mereka juga dituntut mempunyai jiwa seni yang tinggi. Untuk itulah, ada seleksi kesenian. Mereka dengan semangat bersiap membawa alat musik, mulai dari biola, suling, angklung, keyboard, dan gitar.

Semua rangkaian tes itu baru di hari pertama Selanjutnya, di hari kedua para peserta cukup tegang karena harus melewati seleksi potensi akademik, yang terdiri dari pengetahuan umum dan Bahasa Inggris. Setelah itu, masih ada tes kesehatan, dari mulai mata, tensi darah, sampai struktur tulang bahu dan tulang kaki.

Akhirnya momen yang ditunggu-tunggu datang juga. Panitia mengumumkan siapa saja yang lolos dari seluruh tahapan seleksi selama dua hari ini.

Cara mengumumkannya pun cukup unik. Foto-foto peserta yang lulus dipasang di papan pengumuman. Seru juga, mencari-cari foto kita di antara 70 orang yang lulus. Untuk peserta dengan nilai tertinggi dan masuk 15 besar, mereka mempunyai kesempatan untuk mengikuti seleksi di tingkat provinsi dan nasional. Wow, berarti mereka punya kesempatan untuk menjadi paskibraka dong.

Perjuangan untuk menjadi paskibra belum berhenti lho. Mereka baru lulus menjadi calon paskibra yang harus dilatih lagi selama tiga bulan. Latihan diadakan setiap hari Sabtu dan Minggu mulai pukul 06.00 sampai 15.00. Tak hanya fisik, mereka dilatih kekuatan mental, pelatihan ini tidak mengenal yang namanya kekerasan, tetapi lebih ke arah mendidik dan melatih para pasukan yang sifatnya semi militer supaya mereka tidak lembek.

Setelah berjuang selama tiga bulan, tibalah saatnya untuk dikukuhkan menjadi Anggota Paskibra Kota Jakarta Timur. Pada tahun ini, para calon paskibra dikukuhkan oleh Wali Kota Jakarta Timur Murdani. Pengukuhan ini langsung mengubah label mereka dari calon paskibra menjadi paskibra.

Tibalah saat upacara bendera 17 Agustus, seluruh paskibra bersiap untuk menjalankan tugasnya. Rasa deg-degan itu pasti ada, tetapi dengan langkah tegap dan percaya diri mereka berhasil menjalankan tugasnya.

Kehormatan besar

Siswa SMA Negeri 93 Jakarata Timur, Herdiyan Rizy S. mengungkapkan pengalamannya. Dia merasakan banyak mendapat pelajaran, terutama terkait dengan perilaku sehari-hari.

“Awalnya hanya ikut-ikutan dan saya bukan anak paskibra di sekolah. Dengan menjadi calon paskibra, banyak hal yang saya dapatkan. Kami diajarkan suatu metode pelatihan yang dapat mengubah perilaku, watak, dan segala sikap menjadi orang yang lebih baik,” kata dia.

Hal senada disampaikan siswi SMA Negeri 48 Jakarta Timur, Mayang Pramudita, yang juga anggota calon paskibra (capaska). “Suatu kehormatan besar bagi saya bisa menjadi anggota capaska. Capaska melatih saya untuk berdisiplin, tanggung jawab, dan menjadi kuat. Juga dapat belajar memimpin dan berorganisasi, dan lebih merasakan nasionalisme,” ujarnya.

Sepertinya asyik ya, bisa menjadi anggota paskibra. Tertarik? Ayo mulai cari informasi untuk menjadi anggota paskibra tahun depan.

Kompas, 5 Oktober 2012 – page 35

Kata Mereka tentang Paskibra

Yusuf Maulana Ketua Purna Paskibra Indonesia (PPI)

Paskibra bukanlah kelompok yang elite atau eksklusif, namun untuk berpartisipasi memanglah hanya untuk anak anak yang terpilih. Kami hanya melakukan yang sederhana untuk menghargai Sang Merah Putih. Untuk menjadi paskibra memang dibutuhkan proses panjang sebagaimana para pejuang yang berkorban sangat besar.

Nelly Roestarini, SH., Orangtua Anggota Paskibra

Anak saya mempunyai rasa disiplin, menghargai waktu shalat, dan bertanggung jawab setelah mengikuti pelatihan paskibra. Kami sebagai orangtua hares memberi semangat terhadap putra-putri, juga bimbingan dan doa agar lebih sukses dan lancar. Terlebih paskibra tidak mengganggu kegiatan belajar.

Tantangan Menjadi Paskibra

Kompas - Setiap aktivitas kita yang kita kerjakan, pasti selalu ada tantangannya dong, MuDAers?

Justru dengan tantangan tersebut dapat melatih kita agar lebih paham untuk menjalani kehidupan dewasa kelak. Nah, dengan menjadi pasukan pengibar bendera (paskibra), kita dapat melatih banyak hal.

Pertama, melatih untuk bangun pagi. Di pelatihan calon pengibar bendera, kita dilatih untuk terbiasa bangun pagi. Setiap latihan kita dituntut untuk datang on time pukul 06.00, jika terlambat harus siap menerima konsekuensi hukuman. Segala hal harus dikerjakan sendiri, jadi melatih kita untuk mandiri.

Pilihan kita untuk menjadi paskibra belum tentu disetujui orangtua lho.

Itu menjadi tantangan kedua yakni berbeda pendapat dengan orangtua. Orangtua pasti ingin yang terbaik untuk masa depan anak-anaknya, namun terkadang terdapat orangtua yang terlalu mengkhawatirkan dan over protektif terhadap jalan menuju kesuksesan anaknya.

Nah, dengan orangtua seperti ini kita seharusnya dapat berlatih berbicara bijak dan sopan di hadapan orang yang lebih tua. Dengan demikian, kelak ketika sudah bekerja nanti kita mempunyai penilaian kepribadian yang oke dengan cara betbicara yang sopan namun lugas.

Tantangan ketiga, waktu bermain yang berkurang dengan kegiatan pelatihan yang padat.

Bila sudah memutuskan untuk mengikuti pelatihan paskibra, harus rela untuk mengorbankan waktu bermain. Tidak jarang, mereka yang rela ditinggalkan oleh teman temannya untuk berlibur bersama-sama. Pengorbanan mereka cukup besar juga ya…

Pokoknya siap menghadapi banyak tantangan untuk menjadi paskibra yang baik.

Sulitnya menjadi anggota Paskibraka

Merdeka.com – Siapa yang tak bangga menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) saat hari lahirnya bangsa Indonesia 17 Agustus. Tak semua orang bisa menjadi bagian dari pasukan itu. Sebab, menjadi anggota Paskibraka dibutuhkan kesiapan fisik dan mental. Tampil satu kali di Istana Merdeka, mereka harus melalui pelatihan selama satu bulan penuh.

Mereka yang menjadi anggota Paskibra bukan orang main-main. Mereka adalah para siswa-siswi dari seluruh nusantara yang mempunyai prestasi gemilang di sekolahnya. Dari mulai proses seleksi sampai masuk ke karantina saja memakan waktu hampir tiga bulanan.

Di tahap seleksi tingkat sekolah, prestasi pendidikan menjadi salah satu penilaian. Selebihnya fisik, tinggi badan, proporsional tubuh, ketahanan dan baris-berbaris. Setelah lolos, maka mereka bisa mengikuti seleksi ke tingkat kecamatan, tingkat, lalu ke tingkat provinsi, barulah yang paling bergengsi ke tingkat nasional.

Untuk Paskibraka tingkat nasional, setelah melewati seleksi tingkat provinsi nantinya dari daerah 33 itu mengirimkan dua wakilnya. Seorang putra dan seorang putri. Para wakil provinsi itu akan dikarantina di Pusat Pengembangan Pemuda dan Olahraga Nasional (PPPON), Cibubur, Jakarta, sejak Juli.

Prestise menjadi seorang Paskibraka memang tak bisa dipandang sebelah mata. Maka untuk mendapatkan hasil yang maksimal itu, mereka pun digembleng ala militer. Tujuannya, agar mental dan kedisiplinan mereka bisa tertempa.

Di sana, sudah disiapkan tempat latihan yang disesuaikan dengan lapangan upacara di Istana Negara. Boleh dibilang, itu adalah miniatur istana. Mulai ukuran lapangan, tangga istana, hingga tiang bendera, semua dibangun mirip dengan yang ada di Istana Negara.

Program seperti itu, sudah ada sejak era 1980-an. Program yang dijalankan dan lingkungan yang diciptakan dibikin agar para anggota Paskibraka benar- benar bisa nyaman. Artinya, mereka bisa menjalankan semua aturan dan latihan secara serius, tanpa ada keluhan dan keterpaksaan. Cara itu hingga kini masih terus dilakukan sampai sekarang.

Dwifanty Aquina, Alumni Purna Paskibraka Indonesia (PPI) 2003 mengaku sangat bangga pernah menjadi anggota tim penggerek bendera Merah Putih saat peringatan 17 Agustus. Baginya kesempatan itu sangat berharga.

Sebulan di karatina tidak hanya membuat wanita kelahiran Februari 1987 ini menjadi tangguh dan disiplin, tapi juga menambah teman baru.

“Saya bangga karena untuk menjadi anggota Paskibraka itu adalah orang-orang pilihan dan harus melalui serangkaian seleksi ketat. Apalagi dari ribuan siswa lainnya di Jakarta saya menjadi salah satu yang mewakili,” kata wanita yang akrab disapa Tya, kepada merdeka.com, Jumat (17/8).

Tya dulunya anggota Tim Paskibraka untuk wilayah Kota Jakarta Timur. Meski hanya sampai tingkat wilayah dia cukup merasa bangga.

“Habis kalau yang tingkat nasional itu yang cantik-cantik. Tapi senang juga kok walaupun cuma di tingkat wali kota, karena jadi banyak temen baru sekolah-sekolah lain di Jakarta,” tambah wanita yang jago bela diri tae kwondo ini.

Selain suka, tentu Tya tak dapat melupakan duka yang dialaminya selama masa karatina. Digembleng tiga bulan, di karantina satu minggu, jauh dari keluarga, tak bisa bermain bersama teman-teman tentu kala itu menjadi satu yang menyiksa buatnya.

“Dukanya pasti ada rasa lelah karena latihan terus menerus selama 3 bulan, satu minggu karantina, berangkat subuh pulang malam. Dibentak2 senior, dihukum, dikerjain,” kenangnya sambil tersenyum.

Tapi kini, semua itu sudah terbayar. Wanita yang gemar nyanyi rock ini pun kini bangga menyandang gelar sebagai PPI angkatan 2003.

“Semua rasa itu terbayar setelah pengibaran. Rasanya plong dan semua pengorbanan berbulan-bulan itu nggak sia-sia,” ucapnya tersenyum.
[bal]

Dua Siswa SMA Jakarta Terpilih Paskibraka Nasional

Biaya penunjang untuk anggota Paskibraka, merupakan bentuk perhatian dari Gubernur kepada pelajar yang berprestasi

Beritasatu.com – Sebanyak dua siswa dari 30 pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA), yang terpilih menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) DKI Jakarta, dikirim menjadi perwakilan DKI Jakarta, untuk mengibarkan bendera Merah Putih di Istana Negara pada Upacara Kenegaraan Hari Kemerdekaan Negara Indonesia, Jumat, 17 Agustus 2012.

Dua siswa itu adalah Daniel Hidayat dari SMA 10 dan Emilka Nuradanta dari SMA 81. Continue reading